Nasruddin Hoja: "Memanah"

Sesekali, Timur Lenk ingin juga mempermalukan Nasruddin. Karena Nasruddin cerdas dan cerdik, Timur Lenk tidak mau beradu pikiran. Maka diundangnya Nasruddin ke tengah-tengah prajuritnya.

Dunia prajurit, dunia otot dan ketangkasan.

“Ayo Nasruddin,” kata Timur Lenk, “Di hadapan para prajuritku, tunjukkanlah kemampuanmu memanah. Panahlah sekali saja. Kalau panahmu dapat mengenai sasaran, hadiah besar menantimu. Tapi kalau gagal, engkau harus merangkak jalan pulang ke rumahmu.”


Nasruddin terpaksa mengambil busur dan anak panah. Dengan memantapkan hati, ia membidik sasaran, dan mulai memanah. Panah melesat jauh dari sasaran.

Segera Nasruddin berteriak, “Demikianlah gaya tuan Wazir memanah.”

Segera dicabutnya sebuah anak panah lagi. Ia membidik dan memanah lagi. Masih juga panah meleset dari sasaran.

Nasruddin berteriak lagi, “Demikianlah gaya tuan walikota memanah.”

Nasruddin segera mencabut sebuah anak panah lagi. Ia membidik dan memanah lagi. Kebetulan kali ini panahnya menyentuh sasaran.

Nasruddin pun berteriak girang, “Dan yang ini adalah gaya Nasruddin memanah. Untuk itu kita tunggu hadiah dari Paduka Raja.”

Sambil menahan tawa, Timur Lenk menyerahkan hadiah Nasruddin.
© 2009 - Catatan Pekerja IT | Free Blogger Template designed by Choen

Home | Top