DITUTUP: Festival Asap Tahunan

Mungkin baru Indonesia negeri yang suka rela jatuh di lubang yang sama dari tahun ke tahun dan terjadwal rapi. Kebakaran hutan contohnya. Pembakaran atau kebakaran, api mustahil muncul dengan sendirinya. Jadi kebakaran hutan bisa dicegah kalau mau, karena apinya jelas diadakan.

Daerah yang secara rutin mengadakan festival asap gambaran carut-marut sistem, dan orang di dalamnya. Kami pernah beberapa kali menjalin kerja sama dengan pemerintah daerah lima belas hingga sepuluh tahun yang lalu, paham bagaimana rumitnya mengatur daerah. Berusaha seimbang jalankan tupoksi administratif rutin keseharian, sibuk jalankan proyek swakelola, menjaga hubungan dengan raja-raja kecil dan kerabatnya, di dewan saat pengalokasian anggaran sebelum dan sesudah Musrembang alot kadang pakai mahar setiap tahun termasuk untuk pencegahan kebakaran hutan yang disusun dalam ruangan sejuk tidak berasap, menjemput anggaran dari pusat, dan lain-lain.

Masyarakat daerah yang frustasi tentu menuntut ke presiden, ke siapa lagi? Suara rakyat kan suara Tuhan dan sudah diberikan pada presiden terpilih saat pilpres lalu, yang memilih kandidat presiden lain juga berhak menuntut presiden terpilih kok, karena begitu dilantik presiden adalah presiden seluruh rakyat Indonesia bukan hanya milik yang memberikan suara. Kemarin dapat kopian status sosial media dari sebuah daerah yang marah karena mendapati sebelum presiden datang ke daerahnya, dibuatkan panggung semak dibakar untuk seremonial pemadaman oleh presiden, lalu marah pada presiden. Loh, di televisi saat daerah tersebut diliput, presiden sendiri marah karena tahu kedatangannya sudah dipersiapkan oleh daerah menjadi seremonial pemadaman belaka.

Kondisi masyarakat dan pemerintah daerah yang diselimuti asap di paragrap atas jadi pertimbangan utama penyusunan artikel ini. Kesadaran untuk mencegah sebelum api muncul belum ada, koridor pembangun kesadaran harus dibangun dulu.

Ide dan isi artikel ini mesti sudah dipikirkan oleh para 'tokoh kunci', bagaimana hilangkan kabut asap kebakaran hutan dari agenda tahunan. Kami sekedar mengingatkan, kebakaran hutan dengan rumus 5W+H bisa tuntas kalau mau. Sesuai keahlian kami yang bersifat teknis, maka artikel ini hanya membahas "H" atau bagaimana (how).


I. APA

Manusia, hutan, penghuni hutan, dan lahan gambut.

II. DIMANA

Lahan gambut di hutan lahan perusahaan dan hutan lainnya.

III. KAPAN

Setiap musim kemarau dan musim membuka ladang.

IV. KENAPA
  1. Dibakar lebih murah dan cepat. Pelaku pembakaran harus diperlihatkan secara personal perbandingan antara penghematan yang dilakukan bila membuka lahan dengan cara dibakar dengan kerugian yang ditimbulkan yang berefek ke beberapa keturunan, asap menghambat tumbuh kembang otak balita.
  2. Karakter lahan gambut yang bisa menyimpan bara. 
  3. Barangkali masih ada perusahaan yang tidak mau membuka lahan dengan cara dibakar, tapi di lapangan karyawan atau sub-perusahaan belum tentu tidak mau jadikan bakar lahan sebagai cara yang cepat dan murah.

V. SIAPA

Masyarakat, Pemerintah Daerah, Perusahaan pengelola lahan, dan Pemerintah Pusat.

VI. BAGAIMANA
  1. Membangun kesadaran dengan koridor pemaksa kesadaran. Aturan dan hukum yang tegak dan tegas, pusat mengambil alih bila daerah melempem.
  2. Mencegah dengan tindakan dan teknologi pencegahan, sistem peringatan dini dengan partisipasi aktif perusahaan pengelola lahan dan masyarakat.
  3. Membangun sistem pemadaman terpadu yang melibatkan perusahaan, pemerintah setempat dan masyarakat. 

Bagaimana poin pertama bukan perhatian utama artikel ini, walaupun akan terbantu dengan sistem pencegahan yang bisa memastikan dengan bukti, siapa pelaku pembakaran untuk ditindak.

VI. A. PENCEGAHAN

Spanyol dan Uni Eropa sudah membuat sistem pencegahan dan peringatan dini dengan memanfaatkan teknologi jaringan komputer tanpa kabel Wi-Max, dengan beberapa modifikasi dan penyesuaian bisa dibangun oleh daerah yang rutin dikunjungi festival asap. Biayanya ditanggung oleh perusahaan pengelola hutan atau berbagi dengan pemerintah daerah, jangan dibebankan langsung ke masyarakat.

Teknologi pemantauan hutan ini ditempatkan di sebuah menara dengan jangkauan pengawasan radius 8 kilometer, dengan teknologi terkini cakupannya mungkin lebih luas lagi. Berikut beberapa skrinsut, (unduh PDF klik ini):

Cakupan Pengamatan



Perkiraan Estimasi Biaya

Kemarin kami sempat mencari salinan APBD beberapa daerah yang teratur diselimuti kabut asap, sudah ada yang menganggarkan pengadaan drone pemantauan hutan. Drone, ditambah sistem menara pengamat yang bertenaga solar cell bisa memaksimalkan luas daerah pemantauan. Andai radio komunikasi terpadu kehutanan tidak dikorupsi, biaya pembangunan dan pengadaan menara bisa lebih murah. Sudahlah, tidak ada yang membaik dengan berandai-andai.


VI. B. PENANGGULANGAN TERPADU

Hutan adalah data spasial, pemetaan dan zonasasi koentji. Penempatan menara pengawas, wilayah terbang drone pengamatan berada dalam sebuah matriks kolom dan baris yang sepaket dengan posko cepat tanggap yang dilengkapi dengan sumber air (bisa sebuah hydran sumur dalam) atau terbagi dalam kolom pipa air sumber pemadaman.

Saat artikel ini kami tulis, hampir bersamaan dengan jatuhnya korban jiwa (lagi) di Jambi akibat terpapar kabut asap, bayi tidak berdosa. Kami belum paham bagaimana konsep 'rugi-laba' yang ada di kepala pihak-pihak yang bertanggung jawab dengan kebakaran hutan, walaupun satu jiwa di data statistik hanya berupa angka 1, nilai nyawa seorang bayi manusia dengan potensinya di masa dewasa tidak sebanding dengan keuntungan berupa apapun di dunia dan akhirat.

Hasil riset salah seorang ahli geografi Indonesia di Universitas Maryland USA cukup mengejutkan banyak pihak. Ia menyatakan bahwa kehancuran hutan alam di Indonesia periode tahun 2000 sampai 2012 adalah seluas 15.970.000 hektar, diantaranya merupakan hutan primer. Luas are hutan yang hilang atau rusak itu disebut – sebut hampir seukuran Negara Sri Lanka. Luas kerusakan pada tahun 2012 mencapai 840.000 hektar atau dua kali lipat lebih luas daripada kerusakan hutan alam di Brasil (460.000 hektar), pada tahun yang sama (National Geografi Indonesia, 1 Juli 2014).

Hasil kajian kerusakan tersebut merupakan potret akumulasi dari persoalan pola pengelolaan hutan skala komersial sejak 1970an sampai di era reformasi. Pola yang saat ini telah dikoreksi dengan pembatasan penguasaan luas pengelolaan hutan untuk produksi kayu maupun hutan tanaman industri, belum mampu membuktikan suatu pengelolaan hutan lestari atau suistainable forest management (SFM).

Pencegahan bagian dari penanggulangan. Harga perangkat di atas dengan kurs rupiah mungkin masih terlalu mahal, tapi masih lebih murah bila dibandingkan dengan kerugian yang harus dibayar umat manusia dengan kerusakan hutan.

Indonesia adalah negeri yang dianugerahi Tuhan dengan rakyat yang kreatif mensiasati keterbatasan, wajan saja dibuat jadi antena Wi-Fi. Kami sedang menghitung dan merancang sistem yang berfungsi sama seperti menara seperti PDF di atas, dengan muatan lokal sebanyak mungkin. Akan kami publish di blog ini begitu tuntas, dengan mengambil satu hutan langganan kebakaran sebagai acuan merancang sistem pencegahan dan penanggulangan terpadu kebakaran hutan. Masalah teknis selalu punya jalan keluar asal mau.
© 2009 - Catatan Pekerja IT | Free Blogger Template designed by Choen

Home | Top